Wajah Keagamaan Agama Kita

Posted: Januari 10, 2012 in artikel

“Orang bicara cinta

Atas nama Tuhannya

Sambil menyiksa, membunuh,

Berdasarkan keyakinan mereka…”

 

Cinta ~ Iwan Fals dan Kantata Takwa

Sedih rasanya, mendapati kenyataan bahwa euforia kita di penghujung tahun 2011 harus ternodai oleh tragedi kekerasan yang melibatkan isu dan simbol keagamaan. Yang lebih menyedihkan, kekerasan agama yang terjadi lagi-lagi melibatkan umat Islam sebagai aktor utama. Seperti yang kita tahu, sejumlah massa yang mengaku berasal dari kelompok Sunni melakukan penyerangan terhadap warga beraliran Syi’ah di Sampang, Madura pada hari Kamis pagi (29/12). Akibat kejadian ini, tiga buah rumah warga, sebuah musholla, dan sebuah sekolah bernama “Madrasah Misbahul Huda” milik warga Syi’ah ludes terbakar.

Nampaknya kita belum bisa lepas dari ‘horror’ bernama kekerasan beragama. Masih segar dalam ingatan, ketika kita dibuat gempar oleh penyerangan terhadap jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Jawa Barat pada Februari 2011. Pada bulan yang sama, tiga gereja di Temanggung, Jawa Tengah juga diserang. Sebelumnya, tepatnya pada Bulan Agustus 2010 gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) di Bekasi juga diserang sekelompok massa. Belum lagi, ketegangan antar sektarian di Ambon yang hingga kini tak kunjung reda benar, juga ancaman terhadap stabilitas keamanan sebagai akibat dari kemungkinan terulangnya berbagai razia, sweeping kelompok yang dianggap sesat atau perusakan aset dan tempat ibadah atasnama doktrin agama.

Sungguh, situasi ini sebenarnya sangat menggelikan. Kita suka disebut sebagai “masyarakat beragama”, namun apakah berbagai tragedi “kekerasan agama” ini mencerminkan identitas kita sebagai masyarakat beragama? Memang dalam ideologi dasar Negara kita, Pancasila, religiusitas dan spiritualitas ditempatkan pada posisi teratas yang artinya menjadi landasan bagi  berlangsungnya ideologi dasar Negara yang lain, namun apakah situasi yang sedang kita hadapi ini sudah mencerminkan kepribadian kita sebagai masyarakat yang religius?

Sebagai Negara Muslim terbesar di dunia, sudah selayaknya Indonesia menjadi ‘negara aman’ yang menjunjung perdamaian dan kerukunan. Sebab memang begitulah yang diajarkan oleh Islam. Islam sangat memahami bahwa rasa aman adalah pondasi bagi kesejahteraan masyarakat. Ketegangan yang terjadi hanya akan membuang waktu dan energi Umat Islam. Waktu dan energi yang seharusnya dimanfaatkan untuk mengejar ketertinggalan malah habis untuk mengurusi hal-hal yang tidak perlu. Sumberdaya Umat Islam tak terasah dan tak tersalurkan sebagaimana mestinya. Itulah salah satu alasan mengapa Umat Islam mengalami stagnasi dan jauh dari kemajuan.

Mari kita perhatikan firman Allah di QS. Al-Baqarah [2]: 256 dan QS. Yunus [10]: 99, berikut:

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam).” (QS. Al-Baqarah [2]: 256)

“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman?” (QS. Yunus [10]: 99)

Dari kedua ayat di atas, jelaslah bahwa pemaksaan kehendak bukanlah ajaran Islam, apalagi dibarengi dengan kekerasan. Dengan kalimat “jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di muka bumi seluruhnya”, justru secara tersirat Allah SWT menghendaki adanya keragaman di tengah kehidupan manusia. Akhirnya, perbedaan keyakinan haruslah dipahami sebagai sunatullah dan kerukunan beragama harus dimaknai sebagai tuntutan agama.

Umat Islam yang melakukan perusakan tempat ibadah milik agama lain, saya yakini adalah mereka yang hanya belajar ajaran Islam hanya dari kulitnya saja dan tak memahami ajaran Islam secara mendalam. Sebab dalam ajaran agama Islam, perusakan tempat ibadah merupakan larangan agama. Dalam QS. Al-Hajj [22]: 40, Allah berfirman:

“Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa.”

Teranglah, Allah SWT sungguh tidak menghendaki kehancuran tempat ibadah dan melarang Umat Islam untuk menghancurkan tempat ibadah agama lain. Turut memelihara tempat ibadah agama lain sama artinya dengan memelihara masjid sendiri dan menghancurkan tempat ibadah agama lain sama artinya dengan menghancurkan masjid sendiri, sebab penghancuran tempat ibadah akan melahirkan dendam dan tak menutup kemungkinan melahirkan keinginan dari pemeluk agama lain untuk menghancurkan masjid kita. Tentu saja hal ini tak kita kehendaki.

Jangankan menghancurkan tempat ibadah agama lain, memaki dan menghina umat agama lain dan sesembahannya saja Allah melarang. Dalam QS. Al-An’am [6]: 108, Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.”

Larangan memaki dan menghina keyakinan agama lain tak lain dimaksudkan untuk menjaga hubungan harmonis di tengah masyarakat. Harmonisasi ini akan melahirkan rasa aman. Dengan rasa aman dan hubungan yang harmonis dengan semua pihak, diharapkan waktu dan energi umat Islam dapat dimanfaatkan untuk beraktualisasi dan meraih kembali kejayaan yang pernah diraih.

Caci-maki tidak akan menghasilkan manfaat bagi kebaikan. Ada seribusatu macam bahasa dalam menyampaikan kebaikan, bukan dengan caci-maki dan kekerasan. Caci-maki identik dengan orang lemah, baik secara materi maupun spiritual. Bukannya kebaikan yang akan lahir dari caci-maki, namun justru caci-maki akan menampilkan kelemahan dan sisi buruk orang yang melakukannya. Mereka yang meyakini kebenaran dan kebaikan ajaran Islam sudah semestinya menghindari cara-cara yang buruk ini dalam dakwahnya. Dakwah (ajakan) pada kebaikan haruslah dilakukan dengan cara yang baik. Hal ini penting, sebab dakwah dengan caci-maki dan kekerasan adalah boomerang, tak sekedar pada orang yang berdakwah dengan caci-maki, namun juga bagi apa yang mereka dakwahkan. Bukannya orang akan mengikuti apa yang didakwahkan, namun sebaliknya, mereka yang dimaki akan menjauh sebagai akibat dari timbulnya rasa antipati terhadap yang memaki. Bukankah Rasulullah SAW bersabda:

(سَـلامَة ُ الإنـْسَـانِ فِى حِفـْظِ اللـِّـسَانِ (متفق عليه

“keselamatan manusia tergantung pada ucapannya.” (HR. Bukhori Muslim)

Dari sabda Rasulullah SAW di atas, bisa kita katakan: (1) dengan caci-maki, keselamatan jiwa pendakwah (pengajak kebaikan) bisa terancam, (2) keselamatan (kesuksesan) dakwah tergantung pada cara orang berdakwah. Dakwah dengan caci-maki tak hanya mengancam keberhasilan dakwah, namun juga akan membahayakan ajaran yang didakwahkan. Ajaran yang sebenarnya baik.

Bukankah Rasulullah SAW juga bersabda:

(لا تـَغـْضَـبْ (رواه البخاري

“Janganlah kamu marah!” (HR. Bukhori)

Apapun yang terjadi, kita tak boleh mengedepankan emosi dan amarah yang justru akan berakibat buruk pada diri kita sendiri, Umat Islam. Orang yang merasa dirinya paling beriman sesungguhnya adalah orang yang jauh dari keimanan. Orang yang merasa paling benar adalah orang yang jauh dari kebenaran. Boleh jadi, situasi inilah yang coba digambarkan oleh Iwan Fals dan kelompok musik Kantata Takwa dalam lirik lagu berjudul “Cinta” yang saya kutip di awal tulisan. Selamat tahun baru

Surprise!!! Awal pekan ini saya merasa mendapat kejutan. Betapa tidak, salah seorang selebriti papan atas tanah air mempercayakan seorang puteranya untuk saya bina sebagai murid private. Padahal, saya tak memiliki latar belakang apapun tentang kegiatan belajar mengajar, termasuk memberi les private. But it’s ok, saya berterimakasih kepada semua pihak yang mempertemukan saya dengan keluarga special ini.

Jujur saja, figur orang tua si anak menjadi perhatian tersendiri bagi saya sebelum menerima job tersebut. Tak sekedar nama-besarnya, namun juga sepak terjang sang artis yang penuh kontroversi, mulai dari perjalanan karir keartisannya sebagai penyanyi papan atas hingga gonjang-ganjing rumah tangganya yang sering menjadi bahan santapan infotainment dan media massa. Setidaknya, hal ini membuka peluang bagi saya untuk memiliki dua alasan mengapa saya lebih merasa tertantang untuk menjadi “teman belajar” dari putera sang artis kita ini. Sudah selazimnya, menjadi putera seorang public figure akan memberi tekanan lebih secara psikis selain –mungkin— kepercayaan  diri. Menghadapi anak dengan tekanan psikis adalah alasan pertama saya merasa lebih tertantang. Alasan kedua adalah keluhan dari wali kelas sang anak yang menyatakan bahwa si anak artis kita ini cenderung susah dikendalikan daripada teman-temannya yang lain. Sang wali kelas menduga, kecenderungan sikap “semau gue” sang anak adalah akibat dari perceraian yang dihadapi orang-tuanya. Kedua alasan ini saya anggap lebih memberikan tantangan ketimbang “sekedar” menjadi teman belajar bagi anak dari orang kantoran yang happy dengan kehidupannya.

Menjadi orang tua adalah sebuah pertaruhan. Banyak orang tua yang mendapat pengakuan akan keberhasilan dalam membesarkan dan mendidik anak mereka hingga sang anak meraih kesuksesan, namun tak sedikit dari mereka yang gagal total dalam mendidik anak. Pada situasi ini, bukanlah kebahagiaan yang diraih, namun justru sebaliknya: siksaan dan mala petaka.

Butuh keberanian untuk menyatakan diri sebagai pribadi yang rela menjadi orang tua. Kerelaan menjadi orang tua adalah kerelaan akan hilangnya beberapa kemerdekaan hidup yang sebelumnya menjadi hak mutlak seseorang. Kerelaan menjadi orang tua adalah kerelaan akan siksaan, penanggungan beban dan kerelaan atas pengorbanan waktu, tenaga, bahkan nyawa. Berani menjadi orang tua berarti harus berani menjadi pahlawan bagi anak-anaknya, tak lagi sekedar pahlawan bagi kepuasan ego dan identitas pribadi.

Bagaimanapun keadaannya, anak adalah amanah. Setiap amanah akan dituntut pertanggungjawaban. Bagaimanapun situasinya, orang tua adalah pemimpin bagi anak-anaknya. Dan lagi-lagi, setiap pemimpin wajib mempertanggungjawabkan kepemimpinannya. Agama kita, Islam sangat serius dalam menyikapi perkara yang satu ini, hingga Rasulullah Muhammad SAW pun bersabda:

كُلّكُمْ رَاعٍ وَكُلّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

(متفق عليه)

“setiap orang dari kamu adalah pemimpin dan masing-masing akan dituntut pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”

Ketika kita berbicara tentang pendidikan anak, tentu pembicaraan kita tak sekedar melulu tentang “dimana sang anak disekolahkan?”, “berapa rupiah uang sakunya?”, atau “rangking berapa si anak di semester kemarin?”. Hakikat pendidikan bagi anak bukanlah semata-mata tentang usaha kita akan pendidikan formal untuk meraih ilmu pengetahuan, namun tentu saja lebih luas dari itu. Seorang anak akan bertumbuh-kembang dengan baik manakala ia memperoleh pendidikan yang utuh (paripurna). Maka kecerdasan yang diusahakan untuk anak bukan sekedar kecerdasan secara intelektual saja, namun juga kecerdasan emosional, kecerdasan mental-sosial dan kecerdasan mental-spiritual. Dengan kata lain, seorang anak idealnya memiliki:

  • kondisi fisik yang prima,
  • keimanan dan ketakwaan yang teguh dan kokoh.
  • integritas sosial yang tinggi,
  • kecerdasan intelektual yang tinggi (IQ), serta
  • kondisi kejiwaan yang sehat, kepribadian yang matang dan mantab, juga kepercayaan diri tinggi (EQ).

Untuk memperoleh kondisi fisik yang prima pada tumbuh kembang anak sangat dipengaruhi oleh sejauh mana perkembangan susunan saraf pusat (otak) dan kondisi organ tubuh lainnya. Tumbuh kembang dan kesehatan anak secara fisik memerlukan makanan yang baik dan bermutu. Makanan empat sehat lima sempurna merupakan solusi cerdas bagi masalah ini.

Keimanan dan ketakwaan yang teguh dan kokoh merupakan faktor penting dalam pembentukan kepribadian anak. Penanaman sifat-sifat spiritual sedini mungkin dapat membentengi anak dari segala macam efek buruk lingkungan dan perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat.

Perubahan sosial yang sangat cepat dengan ditandai makin melesatnya perkembangan tekhnologi tanpa disadari telah begitu memberi kontribusi bagi pergeseran nilai dan budaya yang berkembang di tengah masyarakat kita. Tradisi ketimuran yang santun dan mengedepankan nilai social religious telah bergeser ke arah pola hidup materialistic individual. Tentu situasi ini sangat tidak menguntungkan bagi tumbuh kembang anak. Lingkungan yang demikian akan menumpulkan insting empati terhadap sesama dan pada perkembangannya akan menjadikan anak-anak kita tak lebih dari robot tanpa rasa cinta dan kasih sayang. Maka dibutuhkan kebersamaan di tengah masyarakat untuk selalu melestarikan nilai moral, etika, dan nilai spiritualitas keberagamaan demi masa depan anak kita.

Tumbuh kembang anak secara kejiwaan (intelektual dan emosional) belakangan sering disebut sebagai Intelectual Quotient (IQ) dan Emotional Quotient (EQ). Kualitas tumbuh kembang anak secara IQ dan EQ ini sangat dipengaruhi oleh sikap, cara dan kepribadian orang tua dalam mendidik anak-anaknya.

Seperti yang kita tahu, dalam perkembangannya, anak mengalami proses “imitasi” dan “identifikasi” anak terhadap kedua orang-tuanya. Secara naluriah, anak akan meniru kebiasaan orang-tuanya dan merekam kuat “hal-hal luar biasa” yang mereka alami. Tanpa kita sadari, rekaman tersebut dapat mempengaruhi perkembangan kejiwaannya di kemudian hari. Maka sudah sepatutnya, dalam kehidupan sehari-hari ke-dua orang tua harus membiasakan diri untuk bersikap manis di depan anak dan memenuhi kebutuhan instingtif mereka yang berupa kasih sayang, perhatian, pendidikan, dan pembinaan psikologi (kejiwaan).

Tumbuh kembang anak akan terganggu jika ke-dua orang tua gagal memenuhi kebutuhan instingtif tersebut. Pada kebanyakan kasus, kegagalan orang tua memenuhi aspek ini biasanya disebabkan oleh apa yang disebut oleh Prof. Dr. dr. Dadang Hawari sebagai “disfungsi keluarga”, dimana peran keluarga tidak berjalan sebagaimana mestinya. Anak yang dibesarkan pada lingkungan keluarga seperti ini memiliki resiko lebih tinggi mengalami gangguan dalam tumbuh kembangnya daripada anak yang dibesarkan dalam keluarga yang sakinah (utuh, harmonis dan tentram). Hal ini disebabkan oleh tingkat stress yang dihadapi anak yang mengalami disfungsi keluarga lebih tinggi dari pada tingkat stress anak pada keluarga yang harmonis.

Dapat dikatakan, sumber stress pada anak yang berkaitan dengan situasi keluarga tempat ia dibesarkan, antara lain: hubungan buruk antara ayah dan ibu, terdapat gangguan fisik atau mental yang diderita oleh salah seorang anggota keluarga, perbedaan cara mendidik oleh orang tua yang satu dengan yang lain, sikap cuek dan dingin orang tua terhadap anak, sikap kasar dan keras terhadap anak, orang tua yang jarang ada di rumah, keberadaan orang tua lain selain orang tua kandung (misalnya: ayah atau ibu tiri), pengawasan dan kontrol yang tidak konsisten, kurangnya stimulasi sosial terhadap dunia di luar rumah, dan lain sebagainya.

Sikap “semau gue” pada kasus si anak artis yang tengah saya hadapi ini besar kemungkinan berkaitan dengan situasi “disfungsi keluarga”. Dalam beberapa kesempatan, seringkali orang tua bersikap kurang bijaksana dalam mengungkapkan rasa kasih sayang kepada anak. Orang tua dengan harta yang melimpah lebih banyak memberikan materi dan uang kepada anak daripada kebersamaan dan keberadaannya di tengah kehangatan keluarga.

Akhirnya, sekali lagi saya katakan: menjadi orang tua adalah sebuah pertaruhan. Dalam konteks agama, anak akan mampu memberikan pertolongan bagi orang tuanya di hari perhitungan, seperti hadis Nabi SAW:

إذَا مَاتَ الإنسَانُ انْقَطَعَ عَمَلهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ

صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَووَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُولَهُ

(رواه ابو داود)

“Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya atau anak yang shalih yang mendo’akannya”. (HR. Abu Daud)

Atau malah justru memberatkan orang tua karena dianggap gagal mendidik dan mengantarkan si anak pada keberhasilan, seperti pada hadis:

كُلّكُمْ رَاعٍ وَكُلّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

متفق عليه))

“setiap orang dari kamu adalah pemimpin dan masing-masing akan dituntut pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhori Muslim)

Sikap berhati-hati terhadap keselamatan keluarga sangat diperhatikan dalam Islam. Allah pun menyeru dalam Al-Qur’an Surat At-Tahriim (66), ayat 6:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”

Maka dari itu, Al-Qur’an mengajarkan kita untuk senantiasa memohon pertolongan Allah dalam usaha mendidik anak. Seperti yang tercatat dalam Al-Qur’an Surat Al-Furqaan (25), ayat 74:

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

Walloohu A’lam…

Pintu Gerbang Peradaban

Posted: November 10, 2011 in Uncategorized

Hari Jum’at besuk, bagi sebagian orang merupakan hari yang spesial. Susunan tanggal 11-11-2011 dianggap sebagai “angka cantik” dan istimewa yang sayang jika dilewatkan begitu saja tanpa “momentum istimewa”. Begitulah, sebagian masyarakat kita memang menyukai dan memilih tanggal-tanggal cantik untuk menyelenggarakan peristiwa-peristiwa penting dalam hidup, seperti kelahiran, pertunangan, grand opening tempat usaha, dan yang paling sering adalah acara pernikahan.

Begitu pula dengan tanggal 11-11-2011, Jum’at besuk. Beberapa artis dan selebriti kita pun memilih tanggal tersebut sebagai waktu yang mereka anggap tepat untuk melangsungkan pernikahan. Sebut saja penyanyi Astrid, Nindy, Anjie, dan Ustadz Solmed. Tak ada yang salah memang jika kita menghendaki acara pernikahan terjadi pada waktu yang istimewa, sebab bisa dikatakan pernikahan adalah peristiwa istimewa dimana seseorang melangkah untuk memasuki “pintu gerbang peradaban”, satu peristiwa penting yang tak setiap hari kita jalani.

Ya, saya beranggapan bahwa pernikahan adalah pintu gerbang peradaban. Kelestarian manusia tergantung pada perilaku dan aktivitas seksual manusia yang menjadi bagian tak terpisahkan dari pernikahan. Melalui naluri seksualnya, sudah menjadi takdir manusia untuk terlibat langsung dalam siklus kehidupan makhluk hidup. Sepasang manusia berbeda jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) melakukan perkawinan, lalu dari pasangan ini lahir seorang bayi yang akan mereka rawat dengan usaha sebaik mungkin  hingga diharapkan bayi ini tumbuh sebagai seorang remaja dan manusia dewasa yang sehat secara fisik dan mental yang pada akhirnya akan membentuk sebuah pasangan lagi. Sementara seiring waktu, pasangan yang pertama tadi akan mengalami penuaan hingga sampai pada fase musnah, pasangan yang kedua ini akan melahirkan manusia baru yang juga akan mengalami siklus kehidupan seperti apa yang dialami pendahulunya. Allah berfirman:

“Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik”.

(QS. An-Nahl: 72)

Erich Fromm memperkenalkan sebuah teori interaksi manusia yang dia sebut sebagai “humanis dialektik”. Dimana dalam teori ini, Fromm menaruh perhatian besar terhadap perjuangan manusia yang tidak pernah menyerah untuk berhubungan dengan lingkungan dan orang lain  dalam rangka memperoleh martabat dan kebebasan (idealitas). Selain berinteraksi dengan alam semesta, secara alamiah manusia akan membangun komunitas dengan sesamanya. Dalam sekup yang paling sederhana, seorang individu membutuhkan pasangan hidup yang akan berhubungan langsung dengan pasangan hidup-pasangan hidup yang lain. Mereka bergumul dalam pembelajaran sosial dan bersama-sama memupuk kematangan kepribadian. Dan selaras dengan kehendak Tuhan, organisasi sosial ini akan melahirkan generasi baru yang akan mewarisi peradaban dari generasi terdahulu dan bergerak menciptakan kesuksesan peradaban di masanya sendiri.

Sementara itu, Al-Qur’an mempresentasikan manusia sebagai “khalifah”. Kita dapat menemukan argument ini dalam Q. S. Al-Baqarah: 30, Q. S. An-Nur: 55, Q. S. Al-An’am: 165. Dalam “rencana besar Tuhan”, manusia bergerak sebagai aktor utama pengemban Amanah Tuhan dan alam semesta menjadi panggung akbar yang sejatinya di antara keduanya mempunyai hubungan dialektis dan resiko kausal. Untuk kepentingan ini, manusia diciptakan Allah dengan kualitas terbaik dan dibekali dengan kelengkapan potensi yang tidak dimiliki oleh makhluk (ciptaan) Allah yang lain. Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.

(Q. S. At-Tiin : 4)

Seperti yang kita tahu, Allah SWT menciptakan manusia dengan dua komponen pokok, yaitu komponen material/fisikal berupa jasmani dan melengkapinya dengan komponen immaterial berupa akal, ruh dan hati (qalb).

Tentu saja setiap komponen fisikal maupun komponen immaterial manusia, mempunyai kebutuhan fisiologis sendiri-sendiri. Kebutuhan material manusia adalah seperti makan, minum dan kebutuhan seksual dapat dipuaskan hanya dengan obyek yang fisikal pula. Kebutuhan akan makan dapat dipenuhi dengan makanan, kebutuhan untuk minum dapat dipenuhi dengan minuman. Begitu juga dengan kebutuhan seksual manusia dapat dipenuhi dengan kawin (aktivitas seksual) dan seterusnya.

Beda halnya dengan kebutuhan immaterial manusia yang lebih bersifat instingtif seperti kesadaran diri, berpikir dan berimajinasi yang kebutuhan-kebutuhan ini maujud dalam pengalaman khas manusia meliputi perasaan lemah lembut, cinta kasih, rasa iba, perhatian, tanggung jawab, identitas, integritas, sedih, transendensi, kebebasan, nilai dan norma. Selain itu, kebutuhan instingtif manusia juga berupa kebutuhan ruhaniyyah ilaahiyyah yang pemuasan kebutuhan ini tergantung pada tingkat kepuasan hubungan vertical manusia dengan Tuhannya. Dengan semua potensi ini, manusia tumbuh dengan dua kekuatan mendasar, yaitu kekuatan berpikir (quwwah nazhariyah) dan kekuatan fisik (quwwah ‘amaliyah).

Dalam rangka menjawab berbagai ekspektasi ini, agama menyiapkan pernikahan sebagai mahligai yang diridhai dan jalan yang dibenarkan untuk ditempuh manusia dalam berhubungan dengan lawan jenis guna memenuhi kebutuhan biologis dan instingtifnya. Pernikahan direkomendasikan oleh agama sebagai cara yang terhormat dan bermartabat ketika manusia menghendaki untuk berkembang biak dan membesarkan anak keturunannya. Pernikahan menjadi wadah paling efektif untuk mengaktualisasikan potensi yang dimiliki hewan-berakal bernama manusia ini, dan menjadi pondasi yang kuat saat melaksanakan taklifat (kewajiban)-nya sebagai khalifah Tuhan. Di sinilah peran pernikahan sebagai pintu gerbang peradaban berfungsi.

Singkatnya, tujuan pernikahan adalah ketentraman. Segala aturan dan fasilitas yang direkomendasikan oleh agama tak lain bertujuan untuk ketentraman manusia. Allah SWT berfirman:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.

(Q. S. Ar-Ruum: 21).

Secara tegas Q. S. Ar-Rum: 21 di atas menerangkan bahwa Sakinah (ketentraman) merupakan tujuan dari setiap pernikahan. Dimana mawaddah (cinta-kasih) dan rahmah (belas kasihan/welas asih-Jawa) menjadi faktor “soul internal” (bersifat instingtif) yang membawa pernikahan ke arah sakinah (ketentraman). Seperti halnya manusia yang terdiri dari dua komponen (komponen immaterial dan komponen fisikal), keberhasilan pernikahan hingga sampai pada sakinah ditentukan pula oleh faktor “body external” yang melekat pada pelaku pernikahan itu sendiri, yang antara lain faktor fisikal ini berupa kekuatan ekonomi, aspek sosiologi, budaya, keagamaan (ideology/spiritual), pendidikan (tarbiyah) dan intelektual, dan tentu saja kesehatan fisik (jasmani) serta kesehatan mental (psikis) yang bersangkutan. Keseimbangan kedua faktor inilah yang mengantarkan pernikahan kepada tujuan utamanya. Keseimbangan dari kedua faktor inilah yang akan mengantarkan manusia pada ketentraman (sakiinah) dalam hidupnya.

Dari apa yang kita bicarakan, “tanggal cantik” memang bukan merupakan salah satu faktor keberhasilan sebuah rumah tangga, namun pemilihan angka cantik ini tentu saja dimaksudkan untuk menambah kebahagiaan dan kesan yang dalam bagi kedua mempelai. Maka, bagi anda yang akan memasuki pintu gerbang peradaban pada 11-11-2011, Jum’at besuk, saya ucapkan “Selamat bersyukur atas segala nikmat. Selamat berteduh di bawah atap rahmat”.

Pada zamannya, Sulaiman ‘Alaihis Salam dikenal sebagai seorang raja yang istimewa. Sulaiman ‘Alaihis Salam dianugerahi Tuhan kemampuan berkomunikasi dengan alam semesta. Tidak hanya dengan manusia, Sulaiman ‘Alaihis Salam juga bercakap dengan makhluk lain dari bangsa jin, burung, serangga, semut, pohon, gunung, samudera, angin, bahkan batu.

Sulaiman ‘Alaihis Salam adalah seorang raja yang dicintai dan dipatuhi oleh rakyatnya. Konon, apabila Sulaiman ‘Alaihis Salam berjalan melewati jejeran pohon kurma dan kelapa, maka pohon-pohon itu akan membungkuk untuk ruku’ memberi hormat pada Sulaiman. Apabila Sulaiman ‘Alaihis Salam melewati gerombolan hewan, maka hewan-hewan itu akan menundukkan muka tak kuasa menatap pandangan Sulaiman disebabkan kewibawaannya yang agung. Apabila Sulaiman ‘Alaihis Salam secara kebetulan berjalan melewati daerah yang sedang hujan, maka hujan itu akan reda sejenak hingga Sulaiman ‘Alaihis Salam lewat, gelombang samudera akan tenang ketika Sulaiman ‘Alaihis Salam menyeberang samudera. Begitu juga dengan hembusan angin yang akan berhembus dengan sepoi-sepoi. Kemanapun Sulaiman ‘Alaihis Salam pergi selalu ada awan mendung yang memayunginya dari panas dan hujan. Apapun yang dititahkan Sulaiman ‘Alaihis Salam maka alam semesta akan mengamini untuk kemudian mematuhi. Sampai segitunya.

Konon, kecintaan Tuhan dan alam semesta pada Sulaiman ‘Alaihis Salam tidak lain dikarenakan kecintaan yang tulus dari Sulaiman ‘Alaihis Salam pada Sang Pencipta dan alam semesta itu sendiri. Kita bisa perhatikan kisah dalam Al-Qur’an (An-Naml [27]: 18-19), ketika Sulaiman dan pasukannya hendak melewati satu tempat yang dihuni makhluk semut, maka berkatalah seekor semut pada yang lain agar segera masuk ke sarang masing-masing agar tak terinjak pasukan Sulaiman. Ulah semut ini membuat Sulaiman geli. Dan dia pun tertawa pertanda penuh cinta dan selanjutnya berdoa pada Allah agar dirinya dimasukkan dalam golongan orang saleh.

Sulaiman ‘Alaihis Salam adalah pribadi teduh yang sangat mengetahui bagaimana cara bercinta dan berkasihsayang. Ini bukan apologi. Fakta ini adalah sebuah keadaan dimana logika nalar kita bisa menerjemahkannya menjadi sebuah hal yang wajar. Bisa jadi, Sulaiman ‘Alaihis Salam adalah seorang yang sangat memahami kesejatian hubungan kausal. Sederhana saja, Anda akan dihormati orang lain selama Anda menghormati orang lain. Orang lain akan dengan senang hati membantu keadaan sulit yang Anda hadapi, jika Anda membiasakan diri untuk bersedia membantu orang lain yang sedang berhadapan dengan situasi sulit. Anda akan mendapatkan banyak hal dari orang lain apabila dengan tulus Anda memberi. Anda akan mendapatkan kemurnian cinta kasih apabila Anda mencintai dan mengasihi dengan cinta dan kasih yang murni. Pun demikian, hubungan kausal-lah yang akan memosisikan Anda menjadi orang yang akan dilecehkan jika Anda terbiasa melecehkan. Anda akan dibenci jika Anda gemar berbagi kebencian. Tak ada yang bersedia membantu Anda selama Anda enggan membantu sesama. Anda hanya akan terjebak dalam hubungan silaturahmi yang penuh “jilat-menjilat” (baca: kemunafikan) jika memang Anda suka “menjilat”. Anda tak akan mendapatkan kemurnian cinta kasih, bila Anda tidak mencintai dan mengasihi dengan cinta dan kasih yang murni. Kemegahankah atau kehancuran? Ketentramankah atau kegelisahan? Kesejahteraankah atau kemelaratan dan kesengsaraan? Kita hanya akan memetik ganjaran dari apa yang kita usahakan.

Bisa jadi, Sulaiman ‘Alaihis Salam adalah seorang yang telah mencapai derajat kesalehan tertinggi. Sebuah strata yang mungkin akan diraih hanya dengan keseimbangan dari kesempurnaan kesalehan vertikal dan kesalehan horisontal. Sulaiman ‘Alaihis Salam tentunya sangat menyadari bahwa kesalehan vertikal tidak akan didapat dengan sekedar melaksanakan ritual-ritual persembahyangan, namun tentu juga dengan jalan menjaga situasi selalu kondusif agar aktivitas penghambaan dapat berjalan dengan baik. Pun Sulaiman ‘Alaihis Salam sangat menyadari bahwa kesalehan horisontal tidak akan dapat diraih dengan sekedar berbuat baik dengan sesama bangsa manusia saja, namun perilaku ihsan juga harus dipraktekkan dalam interaksi sehari-sehari manusia dengan makhluk-makhluk Tuhan lain yang mendukung berlangsungnya kehidupan manusia, sebut saja mereka: langit, bumi, samudera, binatang, udara, angin, batu, gunung, pohon, hutan, sungai, tanah, api, hingga makhluk lain yang tak kasat mata.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Sulaiman ‘Alaihis Salam jika menyaksikan apa yang terjadi pada bumi kita belakangan ini. Seperti yang diperbincangkan banyak pihak, bumi kita terlanjur mengalami “meriang” yang proses penyembuhannya diperkirakan akan berlangsung dalam waktu yang lama. Penduduk bumi berlomba-lomba menjadi orang zholim. Berlomba melalaikan tugasnya sebagai kholifah di muka bumi. Serakah pada sesama dan sewenang-wenang pada alam semesta. Atas nama pembangunan, pemerkosaan terhadap sumber daya alam dilakukan secara arogan. Negara-negara maju menjadi komandan yang “korup”, yang hanya memikirkan kepentingannya dan membodohi negara berkembang yang memiliki kekayaan sumber daya.

Sejatinya, melukai alam berarti melukai diri sendiri. Eksploitasi besar-besaran terhadap hasil hutan misalnya. Seperti yang kita tahu, hutan merupakan paru-paru bumi, di sanalah kehidupan flora dan fauna berlangsung. Akar pohon di hutan menghisap lebih dari 60% air hujan yang tumpah ke bumi, lalu hutan melepas air hujan tersebut melalui resapan tanah dan secara teratur mengalirkannya lewat aliran sungai. Tanpa hutan, air hujan akan langsung menghempas bumi dan menggenangi bumi tanpa dapat dikendalikan. Fauna memanfaatkan pohon-pohon di hutan sebagai tempat tinggal dan sumber pangan. Dalam hutan, siklus kehidupan fauna bergerak berdasarkan rantai makanan. Tanpa adanya hutan, fauna akan kehilangan tempat tinggal dan menyebabkan terputusnya rantai makanan itu. Tentu hal ini akan membahayakan kehidupan manusia. Air yang diolah oleh hutan menjadi sumber kehidupan bagi makhluk hidup, termasuk manusia. Untuk itu hutan memiliki peran yang sangat penting bagi keseimbangan ekosistem.

Satu peran lain yang tak tergantikan adalah fungsi hutan sebagai penghisap karbon dioksida. Rusaknya hutan mengakibatkan kuantitas karbon dioksida tak terkontrol, polusi ini semakin menggila disebabkan pencemaran udara dari limbah industri. Karbon dioksida dan polusi industri yang tak mampu menembus lapisan atmosfir akan memantul kembali ke bumi mengakibatkan pemanasan global (global warming) yang mengancam kelangsungan hidup manusia. Pemanasan global ini mengakibatkan mencairnya gletser di enam benua, mencairnya lautan es di kutub utara dan kutub selatan, demikian juga lapisan es di Greenland. Hal ini mengakibatkan naiknya permukaan air laut yang kemudian silih berganti melahirkan badai mematikan. Situasi ini juga menyebabkan ketidakberaturannya iklim yang berpengaruh pada perubahan musim yang tak terduga. Sedangkan perubahan iklim secara acak ini akan memusnahkan berbagai spesies satwa dan berkurangnya keragaman hayati. Mencairnya gunung es di berbagai tempat juga memicu aktivitas magma di perut bumi hingga “membangunkan” kembali gunung berapi di seluruh dunia yang lama “pulas tertidur”. Ya, situasi inilah yang saya katakana sebagai “bumi yang sedang meriang”.

Huff, padahal apa yang saya gambarkan ini “barulah” efek dari rusaknya hutan, kita belum berbicara tentang efek eksploitasi minyak bumi, gas, tambang emas, batubara dan lain-lain. Kita tahu, keserakahan adalah bom waktu. Keserakahan adalah petaka di kemudian hari. Dan jika alam sudah terlanjur benar-benar marah, maka apa yang akan kita perbuat?

Sekali lagi, hukum alam adalah hukum kausal. Kita hanya akan menerima ganjaran dari apa yang kita perbuat. Sebaliknya, Tuhan dan alam akan berperilaku manis pada kita jika kita berperilaku manis pada keduanya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Sulaiman ‘Alaihis Salam jika menyaksikan apa yang menimpa bumi kita saat ini. Menertawakan atau bersedihkah? Sekedar menggelengkan kepala atau merasa trenyuhkah? Meratapkah? Menggerutukah? Atau mungkin frustasi? WallaahuA’lam

Jakarta, 08 Oktober 2011. Baca entri selengkapnya »